image01

Pedagang Pasar Induk Jatiuwung Mengadu ke DPRD

KOTA TANGERANG– Bertempat di Ruang Badan Anggaran  DPRD Kota Tangerang, kurang lebih 50 pedagang Pasar Induk Jatiuwung melakukan permohonan Audensi dengan Komisi 3 DPRD yang di hadiri oleh ketua komisi Wawan Setiawan, wakil ketua komisi  Anggiat Sitohang, Nurhadi. ST,( Grinda ) M.Rijal ( PDIP ). 

Keresahan yang telah lama dirasakan para pedagang sayur Pasar Induk Jatiuwung sejak 2018 lalu, Tangerang semakin menjadi sepi. Sepinya pembeli hingga barang dagangannya busuk pun jadi kendala.

Untuk menghilangkan gundahnya, para pedagang mengadukan nasibnya ini ke DPRD Kota Tangerang pada Kamis 6 Januari 2022 kemarin. Tujuannya meminta Pasar Induk Tanah Tinggi untuk ditutup. Perwakilan pedagang Pasar Induk Jatiuwung, Yudi mengatakan, pihaknya meminta realisasi pernyataan dari Wali Kota Tangerang yang tersiar di beberapa Media cetak pada Oktober 2018.

Menurutnya dalam pernyataan tersebut, Wali Kota Tangerang saat meresmikan pasar induk Jatiuwung telah menyampaikan bahwa Pasar Induk Tanah Tinggi yang telah habis izin operasionalnya pada 2021 tidak akan diperpanjang.

Selain itu lanjut yudi membacakan berita yang di muat di harian Nasional Indopos tanggal 15 oktober 2018, ada sejumlah alasan pemindahan Pasar Induk Tanah Tinggi, yakni lokasinya terlalu dekat dengan Puspem Kota Tangerang, sering mengakibatkan kemacetan, sering terjadi aksi premanisme atau rawan kejahatan, kondisi pasar yang sudah tidak layak, serta rawan bentrok antar kelompok. "Kami memohon kepada bapak bapak Dewan yang terhormat bisa menjembatani nasib kami para pedagang induk Jatiuwung, dan juga Wali Kota Tangerang untuk bisa segera mengambil sikap dan keputusan atas dasar statemen yang telah bapak katakan di surat kabar harian pada 15 Oktober 2018," ucap dia.

Yudi menyebut, pihaknya juga heran dan mempertanyakan terkait apabila surat izin Pasar Induk Tanah Tinggi sudah habis dan tidak akan diperpanjang, tetapi sampai awal 2022 ini masih ada kegiatan di Pasar Induk Tanah Tinggi, dan dilakukan pembiaran. "Seenggaknya kenapa ada pembiaran kalau tidak ada perizinan," katanya.

 

Sementara itu Ketua DPRD Kota Tangerang Gatot Wibowo berjanji akan menampung aspirasi para pedagang untuk kemudian ditindaklanjuti. "Isi aspirasi ada tiga poin yang disampaikan dan ini akan kita tindak lanjuti. Nanti kita akan berkoordinasi dan berkomunikasi serta memanggil dinas terkait yang berkaitan dengan kondisi Pasar Jatiuwung dan Tanah Tinggi," ungkapnya.

DPRD segera mendalami permasalahan kedua pasar induk ini. Idealnya hanya ada satu pasar induk di Kota Tangerang. Keberadaan Pasar Induk Jatiuwung yang diklaim pasar terluas se-Provinsi Banten sangat efektif. "Idealnya cuma satu kan melihat kapasitas jumlah penduduk biasa penyebaran. Kalau kita lihat beberapa wilayah, daerah kayak Semarang saja belum ada juga pasar induk. Ini kan harus ada pendistribusian dari jumlah penduduk. Kalau pasar induk itu rata-rata satu setahu saya. Termasuk Jakarta cuma Kramat Jati," jelas Gatot Wibowo ketua DPRD.

Wawan Setiawan selaku ketua Komisi 3  juga berjanji setelah menerima aspirasi dari para pedagang Pasar Induk Jatiuwung segera akan meminta penjelasan Wali Kota Tangerang. Selain itu, pihaknya juga akan memanggil dinas-dinas terkait untuk menindaklanjuti permasalahan ini.

 "Nanti dalam hearing kita akan tahu jawabannya karena kita ingin konfirmasi dahulu dengan pihak terkait dan dinas baik Indagkop, Perizinan, Perkim. Ini kan terkait RDTM di wilayah nanti kita akan cek semuanya," ujar Wawan. (yan dprd)

» 2022-01-07